News

admin on April 19, 2017

Usai sudah gelaran Makara Merah Cup (MMC) sebagai ajang kompetisi futsal antar lembaga di FH UI yang diselenggarakan pada 11-13 April 2017. Artahsasta (FH UI 2016) selaku PIC dari event ini beranggapan bahwa MMC merupakan ajang di mana setiap lembaga di FH UI berkesempatan untuk membela lembaga mereka dalam sebuah kompetisi. Meskipun demikian, tujuan utama tak lain adalah untuk mempererat hubungan tali persaudaraan dari lembaga-lembaga di FH UI sendiri. Ia pun berharap agar ke depannya MMC bisa menjadi acara yang lebih besar dan lebih bergengsi.

Terdapat sebuah kejutan pada MMC kali ini. Kompetisi di bawah naungan Recht Football Club (RFC) ini tanpa disangka menelurkan sejarah bagi tim debutan, yaitu KOSTRAT. Tergabung bersama ALSA dan LK2 di grup B, KOSTRAT melaju ke final setelah mengatasi perlawanan LK2 3-1 di pertandingan pembuka. Edo Ketaren menjadi sorotan dengan hattricknya di laga tersebut.

Kedatangan KOSTRAT ternyata membawa nasib baik pada pertandingan perdana mereka di ajang MMC. Hasil seri dengan ALSA 3-3 sudah cukup membuat KOSTRAT lolos ke semifinal. Di semifinal, tim debutan ini justru bertemu dengan calon kuat juara MMC, yaitu PO. Di luar dugaan, PO ternyata takluk dengan skor 5-3. Berlanjut di laga puncak, KOSTRAT lalu bertemu dengan BEM yang pada pertandingan semifinal berhasil meredam perlawanan ALSA di pertandingan sebelumnya. Laga puncak MMC antara KOSTRAT dan BEM berlangsung seru, yang akhirnya usai dengan kemenangan KOSTRAT dengan skor 7-4.

"Sebagai tim debutan, ekspektasi saya tidak telalu tinggi. Tapi Ahamdulillah, kita bikin kejutan dan jadi juara di Makara Merah Cup kali ini", ujar Ketua KOSTRAT FH UI 2017, Ahmad El Faruqi (FH UI 2015). Lebih lanjut, Faruqi berkata, "Saya mengucapkan terimakasih kepada semua pemain yang sudah rela mengorbankan waktunya untuk bermain hingga KOSTRAT menjadi juara. Juga kepada panitia yang sudah mengundang KOSTRAT untuk bermain di MMC kali ini." Ketika ditanya apakah ada strategi khusus yang digunakan oleh KOSTRAT dalam ajang ini, ia pun mengatakan, "memanggil kembali para pemain senior seperti A. Yastadzi, Benny S. untuk kembali bermain pada kompetisi ini."

Permainan KOSTRAT menuai reaksi dari pemain yang mewakili lembaga lain. Menurut salah satu pemain dari sisi tim BEM FH UI, Hanif (FH UI 2016), ia merasa main melawan KOSTRAT sangatlah menantang. Meskipun dari kedua sisi tim mempunyai pemain yang sama kuat, ia merasa bahwa tim BEM mulai kehilangan fokus pada awal babak kedua. Ia pun cukup menyesali sudah melaju ke laga final namun kalah.

Semoga dengan berakhirnya Makarah Merah Cup dapat pula tercapai tujuan dari diadakannya MMC. Tak lain adalah terciptanya ikatan yang semakin erat antarlembaga yang berdiri di FH UI. Semangat terus makara merah!

Penulis : Bintang Pradana (FH UI 2016) dan Hanif Sugiyartomo (FH UI 2014)

Editor : Haura Klarisa (FH UI 2015)

PERFILMA,
We Are The Media!

admin on April 14, 2017

“Minggu lalu FH rame banget, kira-kira ada apaan ya?”

“Kemarin gue liat di lobby FH ada banyak banget orang ngumpul.”

“Loh, kok di kantin FH ada yang pake seragam SMA sih?”

 

Beberapa waktu lalu, salah satu Badan Otonom di FH UI baru aja menyelenggarakan event berskala nasional. Ya jelas rame banget FH, karena ALSA Local Chapter Universitas Indonesia mengundang mahasiswa dari berbagai universitas di Indonesia serta siswa-siswi SMA dari berbagai daerah untuk mengikuti event tahunan mereka, yakni National English Competition atau yang kita sering denger ALSA E-Comp!

ALSA E-Comp tahun ini merupakan ALSA E-Comp ke-21 yang diselenggarakan oleh ALSA LC UI. Setiap tahunnya, ALSA E-Comp membawa tema yang berbeda. Kali ini, ALSA E-Comp mengusung tema Youth dengan taglineStrive for the Future, Live in the Moment.”Berangkat dari tema tersebut, diharapkan ALSA E-Comp dapat menjadi wadah buat anak muda, baik yang lagi menempuh pendidikan di universitas maupun mereka yang masih di bangku SMA, untuk mengembangkan kemampuan serta meningkatkan kepercayaan diri mereka dalam berbahasa Inggris. Tim Pers Perfilma kali ini berkesempatan buat ngobrol dengan PJ Publikasi The 21st ALSA E-Comp, yaitu Gamma Alicia (FH UI 2015). Menurut Cia, tagline yang dipakai ALSA E-Comp tahun ini selaras dengan tujuan yang dibawa tema itu sendiri. “Supaya anak muda memanfaatkan waktu muda mereka sebaik mungkin. Caranya dengan mengisi waktu tersebut dengan pengalaman berharga yang bisa jadi bekal di masa depan,” tutur Cia.

Sama seperti tahun-tahun sebelumnya, perlombaan yang diadakan ALSA E-Comp selalu gak jauh-jauh dari pengembangan kemampuan berbahasa Inggris. Ada speech, spelling bee, storytelling, newscasting, paper presentation, battle of brains, debate, sampai yang denger-denger paling prestigius yakni E-MUN.

Rangkaian The 21st ALSA E-Comp dibuka dengan pre-event pada 4 April kemarin. Lewat pre-event, warga FH diajak bermain Spin the Wheel Gamedi SnT. Cuma bermodalkan 3 ribu perak, permainan satu ini ngasih kesempatan untuk memenangkan sebuah kamera Nikon. Ada juga photo booth yang gak kalah rame dikunjungin. Selain yang diadain di SnT, ALSA E-Comp juga ngadain photo competition dengan memasang ribbon di foto yang kemudian diupload ke Instagram beserta captionnya. Lomba yang satu ini memperebutkan hadiah yang diidam-idamin warga FH, terutama penggemar berat Mas Agus sama Lek Mino. Bukan meet n greet sama mereka ya, tapi makan gratis dengan voucher sebesar 100 ribu di kantin mereka dan juga di kantin lainnya di FH UI. Beruntung banget ya Besafina Hanan (FH UI 2016) yang berhasil menangin photo competition ALSAE-Comp kali ini!

 

Berlanjut pada opening ceremony yang diadakan pada 6 April. Opening ceremony yang berlokasi di Balai Sidang FH UI dibuka dengan sambutan-sambutan dan welcoming para delagasi berbagai universitas dan SMA dari berbagai wilayah di Indonesia. Pemotongan pita resmi menandakan dimulainya seluruh rangkaian The 21st ALSA E-Comp. Rangkaian hari itu dilanjutkan dengan technical meeting guna membekali para delegasi dengan info-info terkait perlombaan yang mereka ikuti.

Perlombaan berlangsung selama beberapa hari, mulai dari 6 April sampai 11 April kemarin di FH UI serta di Gedung RIK UI untuk beberapa competitions. Lombanya dipisahkan antara yang mahasiswa dengan yang masih di bangku SMA. Gak tanggung-tanggung, Sabtu dan Minggu juga dimanfaatin buat lomba loh! ALSA LC UI juga menurunkan punggawa-punggawa untuk bertanding pada competitions. Untuk lomba individu, ada Mutiara Baswedan (FH UI 2016) yang mewakili ALSA LC UI untuk speech dan Zhakirah Zatalini Irawan (FH UI 2015) untuk newscasting. Sedangkan yang mengikuti lomba berkelompok, ada tim dari FH UI 2016 yang berkomposisikan Nadia Makes, Anassari Salsabiil, dan Nadya Noorfairuza yang mewakili debate serta untuk battle of brains diwakili oleh tim dari FH UI 2014 yang beranggotakan Novella Djohan, Alyssa Tanuwidjaja, dan Michelle Suliyanto.

ParticipantsThe 21st ALSA E-Comp tahun ini berjumlah sekitar 600-an orang. Jumlah ini terbilang lebih sedikit dibanding tahun lalu akibat waktu penyelenggaraan yang berdekatan dengan Ujian Nasional SMA. “Target peserta memang yang kelas 1 dan 2 SMA. Cuma, para guru yang menjadi pendamping mereka malah sibuk ngurus persiapan UN buat siswa kelas 3. Akhirnya, banyak sekolah dari daerah yang tahun lalu ikut, jadi gak berpartisipasi di ALSA E-Comp tahun ini.” ungkap Cia. Selain competitions yang sangat sengit, banyak tenants yang buka lapak di SnT pada 8 April kemarin dalam rangka E-Bazaar yang masih merupakan bagian dari ALSA E-Comp. Ada Yoshinoya yang bikin mahasiswa FH ga keringetan jalan kaki ke Fasilkom, Sabakota, Ibu Rere, The Chendolo, dan toko buku Bukubule yang memanjakan nafsu jajan warga FH dan tentunya juga para delegasi.  

Rangkaian The 21st ALSA E-Comp ditutup pada Selasa, 11 April kemarin. Ada Grand Final Exhibitions yang merupakan babak akhir dari tiap cabang perlombaan untuk menentukan jawara dari masing-masing lomba. Lalu ada closing ceremonyALSA E-Comp yang dilaksanakan di Auditorium FH dengan menampilkan fashion dance. Gak cuma itu, ada juga penampilan dari Roma B. Olivia (FH UI 2015) dengan suara merdunya dan Contrario Band yang beberapa personil di antaranya adalah staf musik Perfilma, yakni Nicholas “Ocin” Ardyanto (FH UI 2016) pada posisi gitaris dan Glenn Muhammad Rifqi (FH UI 2016) pada posisi bassist. Dan gak kalah penting, selain peserta dan panitia mengenakan dresscode semiformal hitam, pada closing ceremony kemarin juga diumumkan para pemenang dari tiap cabang competitionThe 21st ALSA E-Comp serta pemberian penghargaan kepada mereka.

Gimana sih rasanya ikut ALSA E-Comp tahun ini? Teman dari Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto, yaitu Hendrik Siahaan berbagi pengalamannya ikut di The 21st ALSA E-Comp. Ini merupakan kali pertama Hendrik mengunjungi FH UI. “Kesan pertama gue, FH UI gede banget dan juga komplit fasilitasnya, mulai dari ruangan yang menurut gue standar internasional sampe auditoriumnya yang keren parah!” tukas Hendrik. “Gue akuin, anak UI gak cuma cakep, tapi juga pinter. Ini jadi alasan gue untuk semakin terpacu buat bersaing di ALSA E-Comp.” lanjutnya. Saking terpacunya, Hendrik berhasil loh meraih runner-up dari cabang paper presentation.

Hendrik menambahkan pengalamannya dalam mengikuti E-Comp tahun ini. “To be honest, ini pengalaman pertama gue ALSA E-Comp. Yang awalnya gue biasa aja dengan kompetisi ini tiba-tiba jadi excited banget liat euforia para delegasi, mulai dari opening sampe closing ceremony yang menurut gue gokil!” Tak sekadar puas dengan kemenangan yang diraihnya, ia juga mendapat manfaat lain dengan mengikuti ALSA E-Comp. “Dari segi kelombaan, gue dapet pengalaman dari ALSA E-Comp yang bisa gue share ke orang lain.”

Project Officer The 21st ALSA E-Comp, Hafil Naufal (FH UI 2015) angkat bicara mengenai pelaksanaan ALSA E-Comp tahun ini. “Segala masalah teknis dan kendala bisa dilalui dengan baik. Delegasi juga kooperatif yang semakin memperlancar terlaksananya The 21st ALSA E-Comp ini,”. Di samping itu, ia juga mengharapkan antusiasme yang lebih besar pada peserta tahun selanjutnya. “Gue berharap, ALSA E-Comp tahun depan gak kalah rame dari yang sekarang ini.”

Penulis : Haura Klarisa (FH UI 2015)

admin on February 25, 2017

Pada sadar ga sih minggu-minggu ini ada banyak stand-stand yang berkeliaran di sekitar MC dan SnT? Kalo ga sadar kebangetan sih. Buat kalian yang ga tau ada apa atau kenapa banyak stand di sana, itu karena minggu ini ada rangkaian acara yang bernama Days of Law Career (DOLC) di FH UI tercinta ini. Acara bertajuk ‘More than most’ ini dimulai dari hari Senin, 20 Februari 2017 dan berakhir pada tanggal 24 Februari.

Rangkaian acara DOLC tahun ini tuh dimulai dengan opening tentunya, dan juga diikuti oleh talkshow-talkshow dengan pembicara yang merupakan tokoh-tokoh terbaik di bidangnya masing-masing. Tidak hanya talkshow, rangkaian acara juga diwarnai oleh adanya workshop yang diadakan oleh lawfirm yang terlibat. Pada hari ke-4 DOLC, diadakan presentasi-presentasi oleh sebagian besar instansi yang ikut berpartisipasi di DOLC tahun ini. Nah puncak acara DOLC itu ada di hari ke-5, yaitu tes IELTS tertulis dan, yang paling bikin rame tentunya, tes tertulis dan wawancara yang diselenggarakan oleh Assegaf Hamzah and Partners, iya, AHP.

 

Tim Pers PERFILMA beberapa hari yang lalu udah melakukan wawancara terhadap orang-orang yang emang sengaja dateng ke DOLC dan apa sih sebenernya tujuan mereka. Orang-orang yang ga sengaja kami wawancara itu ternyata merupakan anak Undip, iya Undip yang itu, yang Undip. Jadi abang dan mba dari Undip ini emang sengaja dateng ke FH UI buat dateng ke DOLC karena menurut mereka, DOLC itu salah satu jobfair yang notabenenya hukum banget gitu, dan emang karena DOLC itu udah punya sejarah sendiri, ditambah lawfirm-lawfirm yang dateng tuh emang top banget deh! Katanya sih, informasi mengenai DOLC tuh minim banget di kampus mereka, jadi itu kayanya bisa buat saran untuk kedepannya yaauntuk lebih memasifkan publikasi! Selain itu mereka juga menyangkan workshop DOLC yang hanya terbuka untuk anak FH UI. “Dulu sempat terbuka unutk umum workshopnya, cuma sayang ga tau kenapa tahun ini buat anak FH UI saja, mungkin untuk tahun depan bisa dibuka lagi untuk anak-anak dari luar FH UI.”, Ujar mba Bellesalah satu mahasiswa FH Undip yang kami wawancarai.

Kami juga udah nanya-nanya ke stand Pusat Studi Hukum dan Kebijakan Indonesia (PSHK) dan juga ke World Wildlife Fund (WWF), sebenernya kedua tujuan instansi non-lawfirm ini dateng ke DOLC itu supaya lebih di kenal, dan orang tau apa aja sih yang udah mereka kerjakan. Di stand WWF, mereka ngga terlalu terfokus buat narik orang-orang tapi emang cuma pake embel-embel WWF yang emang notabenenya udah beken banget. Sementara PSHK narik orang dengan menampilkan hasil kerja mereka, dan tentunya booth foto dengan prop yang serius tapi ada juga yang nyeleneh.

 

Naah, tentu banyak banget keuntungan yang bisa kita ambil sebagai warga FH UI dari acara ini! Menurut Bang Abi J. Kurnia (FH UI 2013, Ketua Perfilma FH UI 2016), keuntungan dari diselenggarakannya DOLC adalah warga FH UI bisa menambah ilmu pengetahuan seputar dunia hukum dari rangkaian acaranya seperti workshop dan talkshow yang mengangkat tema tertentu dengan pembicara-pembicara yang memang sudah ahli dalam bidangnya masing-masing. Selain itu, antusiasme dari warga FH UI terhadap acara ini sangat luar biasa, terbukti dari banyaknya pendaftar workshop yang melebihi kuota hingga Bang Abi tidak mendapat slot sebagai peserta. Bang Abi juga berpesan, “semoga tahun depan kuota untuk peserta workshop ditambah lagi aja atau jumlah workshopnya ditambah, selain itu juga kalau udah buka booth Dum Dum, jangan lupa paduan yang pas itu sama Potato Corner yaaa.” Well noted, Bang!

 

Jadi gimana? Keren banget kan DOLC? Iya keren dong, namanya juga FH UI nan jaya fakultas kami tercinta! Sekian ulasan kami mengenai acara DOLC, buat yang belum sempat ikut atau liat-liat tahun ini, jangan lupa ikut yaa tahun depan!

(Bintang Pradana & Dinda Namira Anindya, FH UI 2016)

Photos credits : Ariobimo & Dinda Namira Anindya (FH UI 2016)

admin on February 5, 2017

 

Seharusnya, Sabtu kemarin yakni tanggal 4 Februari 2016 menjadi hari yang terkenang bagi banyak orang. Gimana ngga? Mungkin malam itu adalah malam mingguan spesial buat mereka yang memiliki pasangan, atau malam perpisahan dengan teman-teman yang baru aja wisuda, seperti sebagian abang mbak FH yang merayakan kelulusan mereka di Farewell FH UI 2017. Sayangnya, di malam muncul berita kurang menyenangkan yang menimpa UI. Bukan gara-gara skandal atau apa yang mencoreng instansi UI, tapi telah terjadi peristiwa ambruknya pohon yang berada di area akses menuju UI. Pasalnya, pohon yang rubuh semalam tak hanya menyebabkan kemacetan tak terelakkan dan keramaian semata, tetapi juga turut memakan korban jiwa.


Peristiwa naas bermula pada pukul 18.00 WIB. Tak disangka, di tengah lalu lintas yang padat dan kebetulan tidak sedang ada angin kencang, sebuah pohon setinggi lebih dari 20 meter dan berdiameter lebih dari semeter, tiba-tiba saja tumbang di pinggir trotoar Jalan Lingkar UI, Srengseng Sawah. Pohon tersebut seketika menimpa kendaraan yang sedang melintas di jalur yang sedang padat tersebut.


Pengendara motor dan seorang penumpangnya meninggal seketika di tempat kejadian. Diketahui, korban yang bernama Rustiana Imala Putri (26) dan Miftah Abdillah (26) merupakan pasangan suami istri asal Pabuaran, Bogor yang masih memiliki bayi berusia 9 bulan. Pengamanan Lingkungan Kampus (PLK) UI membantu proses evakuasi para korban. Selain itu, sebuah minibus jenis Mitsubishi Grandis warna hitam pun ikut ringsek akibat tumbangnya pohon tersebut. Bersama dengan petugas Polsek Jagakarsa, petugas Dinas Pertamanan dan Pemakaman Jakarta Selatan mengevakuasi pohon yang tumbang agar tidak menutupi ruas jalan.

Pohon Tumbang Wisuda UI
Belum diketahui pasti penyebab dari tumbangnya pohon tersebut. Namun, diperkirakan terlalu rindangnya pohon serta faktor usia menyebabkan pohon mudah ambruk di musim penghujan dengan terjangan angin yang seringkali kencang. Adapula yang beranggapan bahwa kondisi kontur tanah ikut memengaruhi tumbangnya pohon yang telah lama berdiri itu. Mengutip detik.com, Kepala Dinas Kehutanan DKI Djafar Muchlisin menyebutkan bahwa bukan patah dahan, melainkan akar pohon sengon berusia lebih dari 50 tahun itu ikut terangkat karena ambruk. Dari peninjauan di lapangan, diketahui bahwa pohon tersebut sehat. Hanya saja, kondisi tanah yang kurang subur serta tebalnya rerumputan di sekitar pohon diduga menyebabkan pohon menjadi mudah tumbang. Oleh karenanya, tumbangnya pohon tersebut masih diteliti oleh pihak Dinas Kehutanan agar tidak terjadi kembali tumbangnya pohon di kawasan UI.
Meski demikian, pepohonan di UI berada dalam pengawasan dan perawatan UI. Pemangkasan kerap dilakukan pihak UI apabila ada pohon yang berpotensi tumbang. Biasanya, pohon yang dianggap membahayakan pengguna jalan diberi tanda merah dan lebih diawasi oleh pihak UI. Terkait kesuburan tanahnya pun, Djafar menyebutkan bahwa proses penyuburan tanah bisa dilakukan dengan berbagai cara, yang salah satunya adalah pemupukan yang telah dilakukan oleh Dinas Kehutanan.


Selain memakan korban jiwa, tumbangnya pohon di Jalan Lingkar UI juga membuat keruwetan di malam minggu semakin menjadi-jadi. Kemacetan terjadi di sepanjang Jalan Margonda menuju Jalan Lenteng Agung dan sebaliknya. Puluhan pasangan yang sedang asik bermalam mingguan pun diketahui menghabiskan waktu berjam-jam di perjalanan.
Kejadian ini menjadi himbauan bagi kita semua untuk selalu berhati-hati di jalan, apalagi sedang memasuki puncak musim hujan yang anginnya berpotensi menerbangkan jemuran dan kucing peliharaan tetangga. Selalu waspada ya ketika lewatin daerah dengan pepohonan lebat. Dan menjadi pekerjaan rumah bagi dinas terkait untuk senantiasa melakukan peremajaan pada pohon di kawasan yang rindang pepohonannya, terutama di kawasan UI.

Haura Klarisa Tiffany

Sumber:
https://m.tempo.co/read/news/2017/02/04/064843108/pohon-tumbang-di-pintu-masuk-ui-dua-orang-tewas
https://news.detik.com/berita/d-3414165/penyebab-pohon-tumbang-dekat-ui-karena-kontur-tanah-kurang-subur

admin on February 5, 2017

Hayoo kemarin ada apa?

Macet? Tiap hari juga macet. Tapi apa sih yang bikin macet kemarin spesial? Lah macet spesial pake telor kali ya.

Macet kemarin di UI itu disebabkan karena adanya acara wisuda semester ganjil 2017 yang diselenggarakan di Balairung Universitas Indonesia. Nah, setiap wisuda, FH UI nan jaya mengadakan acara perpisahan untuk para senior yang diwisuda pada saat itu yang disebut Farewell. Berdasarkan keterangan dari project officer Farewell FH UI 2017 yaitu Gessica F Gultom (FH UI 2015) Farewell tahun ini mengambil tema Jiwa Merah Batavia. Tema ini diambil karena setiap tahun Farewell selalu mengambil salah satu budaya di Indonesia dan kali ini diambilah budaya Betawi. Dari budaya betawi itu Gessica atau yang biasa dipanggil Cika juga melakukan riset terhadap angkatan 2013 sebagai angakatan yang lulus paling dominan. Berdasarkan hasil riset tersebut, angkatan mereka adalah angkatan yang gigih dan berani. Bisa dibuktikan seperti banyak angkatan 2013 yang cumlaude, 2013 yang gigih untuk maju menjadi ketua acara (mereka lebih banyak bidding dibanding FPT), banyak yang ikut mooting dan memenangkan piala piala mooting serta memenangkan piala perlombaan internasional. Jiwa merah artinya mereka yg memiliki jiwa yg gigih dan berani dan batavia adalah nama lain dr jakarta yang punya adat betawi

 

Terdapat 60 wisudawan/i beserta tamu mereka masing-masing datang di acara Farewell FH UI 2017. Sehingga apabila ditotal ada 200 orang yang datang. Acara kemarin diawali dengan makan bersama lalu mereka masuk di sambut oleh palang pintu. Kemudian ada penampilan tarian betawi dari SMA 109 jakarta dilanjutkan dengan kata sambutan dari Cika, Mbak Hexa ketua BEM, Bang Fikri ketua ILUNI, dan Bu Ratih wakil dekan 1 FH UI. Lalu ada pembagian medali yang seharusnya dibagikan oleh pak topo namun karena beliau sakit, Bang Didit yang menggantikan beliau. Acara juga menjadi semakin meriah berkat penampilan dari Mbak Dita (FH UI 2013) dan Mbak Hilly (FH UI 2013) dan pemutaran video angkatan yang dilanjutkan dengan keynote speech dari Mbak Asa (FH UI 2013). Setelah itu ada persembahan untuk orang tua dan ditutup dengan penampilan dari Rule of Law.

Farewell FHUI

Cika selaku project officer berpesan untuk Abang dan Mbak yang sudah lulus tahun ini tagline farewell adalah doa untuk abang mbak semua. Semoga abang dan mbak tetap gigih dalam menggapai asa dan gagah dalam menaklukkan dunia (masalah yg akan dihadapi). Sukses selalu abang dan mbak, bawalah nama harum FH UI, dan jadilah pribadi yang jujur di mata manusia dan di mata Tuhan :)

"untuk kesan farewell baguusss acaranya singkat padat bermakna hehe yang disayangkan cuman gadapet ijazah makanya jadi lebih sepiii tapi tetep seruuu makanan juga syabiiii apalagi sotonya enak hehehe" ujar Mbak Bella (FH UI 2013, Sekretaris Umum BEM 2016) sebagai salah satu peserta Farewell FH UI 2017. Mbak Bella berharap untuk Farewell selanjutnya harus bisa lebih baik dan lebih rame serta promosinya harus lebih digencarkan. Selain itu Mbak Bella menitip pesan untuk yang masi kuliah maksimalkan waktu yang kalian punya di kuliah, banyak raih ilmu dan pengalaman, penuhi CV, dan jangan sampe meninggalkan FH tanpa prestasi yang berarti baik untuk kalian sendiri dan untuk almamater kita tercinta. Jangan lupa juga untuk perbanyak kenalan dan teman dan jangan lupa have fun!

Dari sudut pandang panitia Farewell itu sendiri Jane (FH UI 2015) sebagai Penanggung Jawab Konsumsi Farewell FH UI 2017, "Acara farewell kemarin menurutku dari kacamata panitia farewell selama 3 semester, acaranya semakin ramai dari tiap semester! Cuaca yang baik (nggak hujan setelah tiap semester sering hujan), makanan enak di farewell juga acara yg melibatkan orang tua melengkapi kebahagiaan wisudawan! Terharu banget liat abang mbak sudah lulus pas mereka saling berpelukan & kasih selamat, baik dari sahabat ke sahabat, orang tua ke anaknya maupun organisasi yg melepas punggawa punggawanya :")", Ujar Jane.

Sedikit berbagi pengalaman mengenai perasaan ketika lulus dan mengemban gelar S.H di belakang nama. Mbak Asih (FH UI 2013, Hakim MM UI 2016) bercerita bahwa sebenarnya biasa saja namun tidak dapat dipungkiri bahwa rasanya memiliki tanggung jawab dan Mbak Asih juga sebenarnya masih ingin menambah pengalaman di bangku kuliah.
Mbak Asih juga memberikan pesan kepada kita yang masih berada di bangku perkuliahan untuk memaksimalkan peran masing-masing. Status mahasiswa itu seluar-biasa itu, bisa ikut lomba untuk mendapat pengalaman (jalan2 ke luar kota/negeri) dan pencapaian prestasi. Ikut organisasi untuk bisa mengembangkan softskill dan ketika organisasi itu bisa menerapkan ilmu hukum dalam skala kecil (ranah kampus).

Sekian ulasan kami mengenai acara Farewell FH UI, bagi Abang Mbak yang akan melaksanakan wisuda di semester genap nanti jangan lupa untuk mengikuti acara Farewell selanjutnya :)

 

Anastasia Marcella dan Natasya Afditami

admin on November 20, 2016

Tentara Merah yang berjuang dalam UI Art War (UIAW) 2016 kembali menorehkan prestasi. Kali ini, kontingen FHUI sukses mempertahankan posisi Juara Umum II UIAW. Hasil gemilang ini tidak lepas dari perjuangan para seniman hukum untuk mengharumkan nama almamater. Tercatat, hampir di semua cabang yang dilombakan, FHUI mampu meraih posisi tiga besar. Adapun Juara Umum I diperoleh FISIP, sementara Juara Umum III diperoleh Fakultas Psikologi.

Pada cabang fotografi contohnya. Kontingen FHUI yang diwakili Jonathan Hans (FHUI 2015) berhasil menyambar juara I. Hasil jepretannya yang diberi judul “Run In Peace” berhasil menaklukan hati para juri dan para pecinta fotografi. Bahkan, hasil fotonya ini merupakan hasil yang “ditunggu-tunggu” oleh para juri karena selain mampu menyesuaikan dengan tema fotografi tahun ini, yaitu “Inner Calm”, teknik fotografi yang diaplikasikan oleh Hans bisa dikatakan sangat baik.

uiaw

Di cabang Film walaupun belum berhasil meraih juara pertama, kontingen FHUI tetap masuk lima besar dengan menjadi juara IV. Selain meraih juara IV, film FHUI juga mendapat penghargaan dalam kategori “Penata Artistik Terbaik”. Prestasi gemilang lainnya juga diperoleh pada cabang Band Competition dimana FHUI meraih juara I, “Keyboardist Terbaik”, atas nama Dio Putra Ilham (FHUI 2015) dan Gabriela Diyanty (FHUI 2016), serta “Drummer Terbaik” atas nama Matheus Siagian (FHUI 2015). Bagi Matt, sapaan Mattheus, gelar ini menjadi gelar Drummer Terbaik kedua kalinya setelah tahun lalu ia juga sukses mendapatkan gelar tersebut. Di cabang Vocal Group, Kontingen FHUI juga berhasil meraih juara I, sementara pada cabang Solo Vocal, Kontingen FHUI yang diwakili Naomi Barus (FHUI 2016) dan Marlin Agustina (FHUI 2013) mampu meraih juara II.

uiaw

Selain cabang-cabang diatas, tahun ini UIAW “kedatangan” empat cabang baru yaitu Monolog, komik strip, cerpen, dan poster. Sayangnya, keempat cabang baru tersebut belum memengaruhi perolehan poin penentuan juara umum karena masih dalam masa percobaan. Padahal, FHUI berhasil meraih juara II Komik Strip yang diwakili Emmanuel Adi (FHUI 2014), juara III Poster, dan Juara II Monolog. Bahkan, penghargaan “Naskah Terbaik” di cabang Monolog juga berhasil diraih FHUI.

“Bagi gue, menjadi juara di suatu perlombaan seni itu merupakan bonus, karena seperti yang kita tahu, seni itu sangat subjektif dan nggak pasti, tergantung selera masing-masing,” tutur Ghafardan Fikrana, Kepala Departemen Seni & Budaya BEM FHUI 2016. Ghafardan merasa bahwa setiap seniman FHUI sudah menampilkan level tertinggi dari karya mereka masing-masing.
“Melihat mereka bahagia saat memperjuangkan karya mereka itu artinya tujuan dari Departemen Seni Budaya sudah tercapai, dan gue rasa supporter FH dan para penonton kemarin setuju kalau seniman-seniman hukum kita sudah menampilkan yang terbaik,” sambungnya.

uiaww

Ya, setiap hasil pasti tercermin dari pelaksanaannya, kan? Begitu juga hasil yang didapat kontingen FH dari UIAW tahun ini. Selamat atas keberhasilannya dalam UIAW tahun ini! Semoga ke depannya bisa lebih baik lagi!

KAMI TAKKAN BIKIN MALU! FHUI NOMOR SATU!

(Fakharsyah Hanif Sugiyartomo)

admin on October 29, 2016

Bahaya mengintai di mana saja dan kapan saja. Oleh karena itu, sudah saatnya kita lebih meningkatkan kewaspadaan terhadap keselamatan diri, terutama bagi kalian yang sering pulang malam. 

Tadi malam, yakni tanggal 28 Oktober 2016, telah terjadi  percobaan penjambretan yang menimpa seorang mahasiswi FHUI 2016 program paralel bernama Ainunnisa Rezky Asokawati. Peristiwa tersebut terjadi di Barel, tepatnya di jalan setapak  berpagar kuning di belakang shelter bis kuning FH,  yang merupakan jalan pintas yang kerap dilewati mahasiswa sehari-hari untuk menuju kosan atau apartemen.

Kejadian bermula ketika Ainunnisa atau yang biasa dipanggil Ica baru saja pulang setelah mengikuti aksi demo yang dilakukan di Jakarta pada siang harinya. Sekitar pukul 22.30 WIB, korban sedang berjalan pulang menuju kosan di Barel dengan menggendong tas ransel dan memeluk sebuah kantong bawaan yang berisi jaket kuning.

Saat melewati pagar kuning dekat dengan rel kereta, korban yang berjalan sendirian tiba-tiba dibekap dari belakang oleh pelaku. Tak hanya itu, pelaku juga mendorong korban hingga jatuh ke tanah. 

"Karena sekapan awal pelan dan lemah dan posisinya dia meluk aku dari belakang, aku sempat mikir kalo dia temenku. Cuma bener-bener syok pas dia ngejatohin aku ke paving block dengan keras dan nyekap mulutku lebih kenceng," ungkap Ica. "Panik dan kaget jadi satu." 

Sontak, korban yang masih dapat melawan lantas memberontak sambil berteriak minta tolong. Untunglah di sekitar tempat kejadian masih ada supir gojek dan (petugas keamanan FH) Pak Vikris Biantoro yang hendak menutup gerbang, yang kemudian mendengar suara teriakan korban dan segera menuju TKP dan memberikan pertolongan.

Mendengar adanya teriakan dari arah lain, pelaku kaget dan seketika melarikan diri ke arah rel kereta. Meski sempat mengelabui dengan berpura-pura jalan seperti biasa agar tak dicurigai, sial baginya, ia berhasil ditangkap di tempat kejadian oleh supir gojek dan petugas kemanan FH yang mengejarnya. Penangkapan tersebut juga melibatkan 3 petugas PJKA yang kebetulan sedang melakulan kontrol rel serta petugas UPTPLK yang sedang melakukan patroli di sekitar lokasi. Pelaku yang tertangkap kemudian digiring  ke gedung merah (PLK) guna pemeriksaan lebih lanjut dan kemudia diserahkan ke Polsek Beji. Akibat kejadian tersebut, korban mengalami luka memar di kepala dan lecet di tangan yang disebabkan oleh perlawanan saat pelaku membekapnya dari belakang. Selain itu, korban juga kemudian dibawa ke gedung merah untuk dimintai keterangan terkait kejadian tersebut sebelum dijemput orang tuanya pukul 02.00 dini hari tadi 

Pelaku diketahui berinisial RS yang merupakan  tunawisma yang kerap berada di lokasi pada malam hari. Diduga ia memang mengincar orang-orang  yang melintas di pagar kuning barel yang diketahui minim penerangan. Ketika melihat korban yang sedang berjalan sendirian, ia segera mengambil kesempatan untuk menjambret korban dengan melancarkan aksinya. Atas perbuatannya, pelaku yang masih berusia 18 tahun  tersebut kemudian dilaporkan oleh korban ke Polsek Beji untuk diproses. Ia diancam dengan pasal 363 KUHP juncto pasal 53 KUHP mengenai percobaan pencurian.

Terkait peristiwa tersebut, korban memberi saran bagi mahasiswa yang kerap pulang malam agar kejadian demikian tak terulang lagi. "Saran aku sih lebih baik hubungi PLK kalo memang mau pulang sendirian. PLK buka layanan baru untuk nganter anak-anak yg takut pulang malem sendiri. Insya Allah dianter sampe tempat dengan selamat," tutur Ica.

Ica juga menambahkan agar selalu waspada ketika berjalan di malam hari. "Pertama sih dari si orang itu dulu. Jangan main HP atau nunjukin barang berharga waktu jalan ataupun di tempat umum. Sebisa mungkin jangan. Terus kalau memang terpaksa pulang malem, usahaka lewat jalur ramai atau kalau perlu minta tolong ditemani PLK,"

Apabila kejadian serupa terjadi, Ica juga meningatkan agar korban berani memberontak. "Sama selalu aware sama situasi sekitar. Aku kemarin pas berontak langsung inget ada abang gojek di depan FH. Hal-hal kecil seperti itu bisa jadi penyelamat pas kita minta pertolongan."

Ia berharap kasus ini ditindak sampai selesai agar pelaku jera dan tak mengulangi perbuatannya. Ica juga berharap agar penerangan di sekitar area Barel ditingkatkan guna meningkatkan keamanan serta mengurangi kerawanan di lokasi, mengingat jalan tersebut kerap dilewati mahasiwa yang pulang malam. 

Untuk kalian yang sering pulang larut malam dan terpaksa sendirian, ada baiknya jika minta ditemani oleh PLK. Kalian bisa menghubungi ke nomor 021-7875602 agar petugas PLK bisa menemani kalian sampai tujuan dengan selamat.

Utamakan keselamatan selalu ya!

(Haura Klarisa Tiffany)

admin on October 8, 2016

Kali ini kita bakalan ngereview salah satu event terbesar dari Perfilma yaitu…POTO! POTO adalah program kerja tahunan Perfilma yang dijadikan sebagai syarat seseorang untuk menjadi anggota Perfilma. Selain memperkenalkan Perfilma, rangkaian POTO juga berguna untuk melatih softskill para calon anggota Perfilma agar mereka dapat mulai mengasah minat dan potensi yang tertanam dalam diri mereka yang mungkin akan bermanfaat di masa depan.

poto

POTO baru saja dilaksanakan pada hari Jumat 30 September sampai dengan Minggu 2 Oktober 2016 yang diselenggarakan di Villa G’fika Puncak. Dihari pertama para peserta memulai perjalanan pada hari Jumat malam dari FH UI dan sampai di villa G’fika pada pukul 23.30. Mungkin udah gak asing dengan yel-yel bernuansa teater yang hanya dimiliki Perfilma, apalagi kalau bukan Combo! Para peserta diberikan kesempatan untuk berekspresi dan melatih kepercayaan diri saat menampilkan Combo masing-masing. Ada Combo Awkarin, Bungong Jeumpa, Roncar, Satgas Anti Mampet, Pingpong, PPAP, dan masih banyak lagi! Lanjuttt ke acara selanjutnya peserta dipersilahkan untuk nonton film hasil karya kelompok mereka, gak ketinggalan juga ada talkshow bersama para perwakilan kelompok mengenai tema film yang diangkat. Setelah asyik nonton film, peserta menyaksikan presentasi program kerja serta kenalan dengan para BPH dari masing-masing divisi yang ada di Perfilma loh.

Nonton udah, kenalan sama BPH juga udah, naah acara selanjutnya adalaah School of Perfilma alias Outbound! Jadi pada School of Perfilma ini terdiri dari 4 Kelas. Kelas yang pertama adalah Make Up Class! Loh kenapa make up class ya? Jadi gini saudara-saudara, kemampuan merias wajah diperlukan biar kita tetap cantik dan ganteng didepan kamera, malu dong kalau main film tapi gak bisa dandan? masa mau ngeliput tempat hangout gak dandan juga? Kelas yang kedua adalah Table Manner Class. Jadi seperti yang kita ketahui Perfilma gak suka berantakan, apalagi ada makanan sisa di meja. Nah untuk menanamkan pribadi yang bersih, kelas ini sangat cocok untuk disinggahi para peserta. Kelas yang ketiga adalah Healty Class! Jiwa yang sehat pasti dihasilkan dari makanan sehat, nah disini Perfilma ngelatih kalian biar terbiasa makan buah, tuhkan kurang sayang apa coba Perfilma sama kalian? Nah kelas yang terakhir adalah Swimming Class. Jiwa seni boleh, tapi jangan lupa anggota Perfilma itu juga harus punya kesetiakawanan yang tinggi. Di swimming class ini peserta dilatih untuk bisa menyelesaikan misi dengan rintangan yang menghadang meski harus membopong teman-temannya dalam suka dan duka. Tuhkan semua rangkaian POTO pasti memiliki esensi untuk kehidupan sehari-hari. School of Perfilma diakhiri dengan manis dengan suguhan penampilan Combo dari semua peserta.

Setelah selesai mengikuti School of Perfilma, para peserta menyaksikan film yang diproduksi dari divisi Film diantaranya yaitu 7 Detik dan I’m Fine. Kebetulan penggarap film 7 Detik sedang ada di tempat juga nih, ada Bang Ilman dan Bang Milen yang  kita ajak buat talkshow dadakan. Kegiatan selanjutnya ada Sharing Alumni Perfilma, kali ini kita kehadiran Bang Mario FH UI 2005 yang berbagi pengalamannya selama menjadi anggota Perfilma. Gak cuma berbagi pengalaman, Bang Mario juga membuka wawasan peserta untuk berpikir out of the box! Setelah sharing Alumni, peserta diberi bekal mengenai Tata Cara Bersidang, tujuannya yak karena kita anak hukum kita harus bisa mengeluarkan pendapat dengan percaya diri dan berargumentasi di depan umum. Rangkaian POTO selanjutnya adalah presentasi program kerja terbesar di Perfilma yaitu JAMS dan UIF (detail-nya bisa cek di website Perfilma ya!) gak cuma presentasi, peserta juga bisa kenalan sama Panitia Inti dari acara-acara tersebut. Oke semua rangkaian POTO telah selesai, untuk mengakhiri acara POTO semua peserta dikumpulkan antar divisi dan diakhiri dengan foto bersama.

Demikianlah rangkain POTO 2016, semoga dengan diselenggarakannya kegiatan ini para peserta bisa menyalurkan bakat dan minatnya pada divisi-divisi yang ada di Perfilma. Suatu kebanggaan bagi kami bisa menyambut para anggota baru Perfilma tahun 2016 (cie udah bukan calon anggota lagi;p) Segenap panitia dan kru yang bertugas kami mengucapkan terimakasih dan mohon maaf jika terdapat kekurangan maupun hal yang kurang berkenan dalam pelaksanaan POTO 2016. Akhir kata kami mengucapkan SELAMAT DATANG DAN SELAMAT BERGABUNG DI KELUARGA BESAR PERFILMA!  PERFILMA, WE ARE THE MEDIA! (Natasya Afditami)

Ps : JANGAN LUPA STAFFING YAA!

admin on October 4, 2016

Teater Lantai Merah FEB UI membuat terobosan dengan pementasan “Bara” yang dilaksanakan pada Jumat, 16 September 2016 lalu di gedung Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki. Mengambil latar kebudayaan jawa pada era 60-an, “Bara” merupakan sebuah kisah penantian. Penantian seorang Ibu terhadap anak lelakinya yang bernama Bara yang hilang dalam kecelakaan kapal laut 12 tahun silam. Kendati pun telah lama hilang, sang ibu masih meyakini bahwa putra kesayangannya masih hidup dan akan kembali ke rumah. Sejak kecelakaan tersebut, setiap detik dalam hidup sang ibu digunakan untuk mempersiapkan kepulangan Bara.

bara

Pementasan dibuka dengan tarian tradisional bernuansa jawa, yang mengisahkan pertemuan dan perpisahan ibu Bara dengan suaminya, yang juga menjadi korban kecelakaan kapal laut bersama bara. Tarian luwes nan indah tersebut dibawakan oleh Muhammad Sukma sebagai bapak, dan Syahda Sabrina sebagai ibu di masa mudanya. Setelah tarian dibawakan, pementasan sandiwara dibuka dengan monolog sang ibu, yang digambarkan sudah tua, 12 tahun kemudian pasca kecelakaan tersebut, yang diperankan oleh Astrid Amalia.

Sang ibu yang merasa kesepian mengisi hari-harinya dengan mengerjakan pekerjaan rumah sembari menyiapkan segala sesuatu untuk menyambut kepulangan bara. Hal ini justru membuat kakak perempuan bara, yang diperankan oleh Anya Zen, menjadi cemburu dan merasa tidak dianggap oleh ibunya sendiri. 

Secara umum, teater ini sebenarnya kekurangan plot, karena hanya berfokus pada sang ibu. Terlalu sering lakon yang menampilkan monolog sang ibu. Kekurangan plot ternyata mampu ditambal oleh performa para aktor dan didukung tata suara yang semakin memberikan kesam suram dan kesepian yang ingin ditonjolkan oleh teater ini. Kesendirian yang dirasakan oleh sang ibu mampu ditransfer dengan baik oleh Astrid Amalia kepada penonton. Pun konfliknya dengan anak perempuannya yang merasa diabaikan memberikan simpati tersendiri kepada sang anak perempuan yang telah mencoba segala cara menghibur hati ibunya agar tidak larut dalam kesedihan dan kerinduan. Setiap aktor yang tampil, kecuali tokoh ibu tentunya, sepertinya tahu bahwa peran mereka sebenarnya sedikit, sehingga selalu tampil all out dalam setiap lakon yang mereka jalani. Sandiwara yang dibawakan oleh para aktor patut diacungi jempol. 

Terlepas dari kekurangan dan kelebihan pementasan ini, teater “Bara” patut kita apresiasi sebagai salah satu karya anak bangsa di bidang kesenian. Pementasan tetater ini juga membuktikan bahwa anak-anak yang menggeluti ilmu eksakta, yang cenderung mengandalkan otak kiri, ternyata tidak tumpul otak kanannya dalam menciptakan cipta, karya, dan karsa di bidang kesenian. Pastinya, akan ditunggu karya-karya brilian selanjutnya dari Teater Lantai Merah FEB UI. (Fakharsyah Hanif Sugiyartomo)

admin on September 5, 2016

Gak kerasa ya semester baru udah dimulai! Udah tiba nih waktunya buat balik ke kampus tercinta dan menjalani rutinitas kayak biasa. Seiring berjalannya perkuliahan, beragam acara kepanitiaan pun juga kembali mewarnai kehidupan mahasiswa UI di kampus, baik yang di dalam fakultas maupun antarfakultas. Salah satu event besar di UI yang paling ditunggu-tunggu dan bakal dilaksanakan dalam waktu dekat ini adalah UI Art War.

Ya iyalah ini termasuk event yang paling ditunggu mahasiswa seantero UI! Dari namanya aja udah kelihatan kan, bakal ada pertempuran seru di UI. Eits, tempurnya bukan tembak-tembakan gitu ya, apalagi tonjok-tonjokan. UI Art War adalah kompetisi tahunan yang diselenggarakan oleh Departemen Seni Budaya BEM UI sebagai bentuk apresiasi terhadap mahasiswa UI yang berprestasi di bidang seni. Kompetisi ini diikuti oleh seluruh fakultas serta program vokasi di UI. Gimana gak bergengsi banget? UI Art War menjadi ajang sekali tahun bagi tiap fakultas untuk unjuk gigi dalam mempertunjukkan bakat seni mahasiswanya. Selain itu, adanya UI Art War juga membuktikan kalo mahasiswa UI gak cuma mampu bersaing dalam hal akademis, tapi juga dapat menorehkan prestasi di bidang non-akademis seperti seni.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, berbagai cabang di bidang kesenian dilombakan dalam UI Art War, yaitu fotografi, film, teater, tari, mural, lukis, solo vocal, vocal group, band, deklamasi puisi, dan stand up comedy. Dari sekian banyak cabang kompetisi belum ada yang sesuai sama minat dan bakat kamu? Tenang aja, karena UI Art War kali ini bakal membawa kejutan buat para calon kontingen dengan menghadirkan beberapa cabang baru yang akan diperlombakan, yaitu monolog, komik strip, cerpen, dan desain poster.

Jika pada tahun lalu "Harga Seni" diusung sebagai tema besar, di tahun ini UI Art War hadir dengan mengusung tema utama "The Reflection of Art". Subtema dari tiap-tiap cabang perlombaan berbeda satu sama lain sebagai perlambangan dari emosi yang dipancarkan dari tema besarnya. Beberapa di antaranya seperti cabang deklamasi puisi yang bertemakan "durja", solo vocal dengan tema "kasmaran", lukis yang memiliki tema "inner fear", fotografi dengan tema "inner calm", dan film yang mengusung tema "kebahagiaan jiwa".

FH termasuk fakultas yang langganan juara lho! Sepanjang diadakannya UI Art War, FH telah berhasil mengantongi segudang prestasi. Pada UI Art War tahun 2014, FH meraih Juara Umum 2 setelah berhasil menyabet 3 emas dengan menjadi Juara 1 di cabang Film lewat film garapan tim Perfilma berjudul "I'm Fine", serta Juara 1 Band dan Teater. FH kembali meraih Juara Umum 2 pada UI Art War tahun 2015 dengan meraih Juara 3 cabang Tari, Juara 2 Cipta Puisi, Juara 2 Solo Vocal, Juara 2 Vocal Group, dan Juara 2 Band. Ditambah lagi, pada UI Art War tahun lalu FH juga meraih pianis terbaik yang sekarang menjabat jadi Kepala Divisi Musik Perfilma, Mbak Marlin Agustina (FHUI 2014) serta drummer terbaik yang juga dari Perfilma, yaitu Staf Musik Perfilma, Matheus Siagian (FHUI 2015). Keren banget kan!

Info yang gak kalah penting sekaligus membanggakan, Project Officer UI Art War tahun ini berasal dari FH lho, yaitu Mbak Nadia Feby Artharini (FHUI 2014). Dengan hashtag #FeelYourVibe, UI Art War 2016 membuka kesempatan bagi mahasiswa UI yang ingin menunjukkan passion mereka dalam bidang seni. Tunggu apalagi?? Buat kamu yang berminat dan tertarik mengharumkan nama FH UI dengan bakat senimu, bersiaplah buat mengikuti audisi kontingen FH yang akan dibuka mulai 7 September ini. Audisinya bakal dibuka kurang lebih selama seminggu aja, jadi jangan sampe kelewatan ya!  Untuk kompetisinya sendiri akan diadakan pada tanggal yang berbeda mulai bulan November ini. Jangan lupa juga buat ikut semarakan yel-yel FH saat Parade UI Art War 2016 nanti. Yuk, persiapkan dirimu untuk menjadi kontingen dan jadilah kebanggaan FH UI selanjutnya! (Haura K.T.)

Profile

Badan Otonom Pers, Fotografi, Film dan Musik Mahasiswa (PERFILMA) adalah organisasi di FHUI yang mengasah kemampuan pers, fotografi, film dan musik di lingkup kampus khususnya lingkup FHUI. Tujuan dari PERFILMA adalah menjadi sarana untuk mengembangkan kreativitas dan juga menambah pengetahuan di bidangnya.

Read More....

Events

Links

Home
Login

Twitter